Tuesday, 29 May 2018
Full Moon Scimitar (圓月彎刀; 1979)
Bagi penggemar film wuxia tentu pernah mendengar - bahkan melihat dan "memainkan" - Golok / Pedang Bulan Sabit. Yep... Golok / Pedang Bulan Sabit adalah salah satu jenis pedang yang sangat populer di era 1970 - 1980an. Golok ini sangat populer karena bentuknya yang unik, yaitu melengkung. Selain itu, golok tersebut ternyata berlapis dua. Jadi apabila diampar, maka golok tersebut akan menjadi golok lengkung dua sisi (mirip lengkungan lambang Tao - Ying Yang).
Sakin populernya Golok Bulan Sabit, di masa itu bahkan dijual dalam bentuk mainan yang terbuat dari plastik.
Mungkin tidak banyak yang tahu - atau mungkin juga lupa - kalau kepopuleran Golok Bulan Sabit di masa lalu tidak saja karena bentuknya yang unik, tetapi karena kepopuleran filmnya yang super-keren.
Pada tahun 1978, Shaw Brothers merilis film berjudul Full Moon Scimitar ( 圓月彎刀 - Yuen Ye Wan Dao) yang disutradarai Chu Yuen. Kisah film ini merupakan adaptasi dari novel populer berjudul sama karya Novelis Ku Lung. Film ini diperani oleh Derek Yee, Liza Wang, Wang Jung, Meg Lam, Wang Lung Wei, dan Ku Kuan Chung.
Sama seperti novelnya, film ini mengisahkan tentang Pendekar Pedang Ding Peng (Derek Yee), seorang pendekar muda yang sedang meraih gelar Pendekar Tersohor dengan menantang para pendekar terbaik di Tiongkok untuk bertarung. Dalam 3 pertarungan pertamanya, Ding Peng selalu meraih kemenangan, dan hal itu membuatnya menjadi sedikit sombong dan lengah.
Sesaat sebelum berhadapan dengan Pendekar Liu Yok Siong (Wang Jung), Ding Peng terperdaya oleh seorang wanita cantik - yang kemudian diketahui merupakan istri Pendekar Liu yang ditugaskan untuk menjebak Ding Peng - sehingga Kitab Pedang Komet miliknya dicuri oleh Pendekar Liu. Pendekar Liu kemudian mengubah nama Kitab Pedang Komet milik Ding Peng dan mengaku kitab itu sebagai kitab pusaka perguruannya. Akibatnya, Ding Peng dituduh mencuri kitab milik perguruan Pendekar Liu, dan dia dipermalukan oleh para pendekar yang hadir dalam duelDing Peng dan Pendekar Liu.
Malu dengan kondisi itu, Ding Peng mencoba bunuh diri. Tetapi dia justru terdampar di Tanah Orang Mati dan berjumpa dengan Siluman Rubah / Qing Qing (Liza Wang). Berkat dorongan semangat Qing Qing, Ding Peng tidak jadi bunuh diri. Ding Peng jatuh hati dengan sikap Qing Qing, sehingga meminangnya. Meski orang tua Qing Qing tidak setuju - karena tidak mungkin manusia menjalin hubungan dengan mahluk dari Dunia Kematian - namun karena keduanya sudah saling mencinta, akhirnya orang tua Qing Qing pun merestui pernikahan mereka.
Pasca menikah, Qing Qing memberikan pusaka keluarganya pada Ding Peng, yaitu Golok Bulan Sabit (Yuen Ye Dao). Dengan menguasai jurus Golok Bulan Sabit, Ding Peng dipastikan akan menjadi pendekar digjaya jika dia kembali ke dunia orang hidup. Setelah menguasai ilmu Golok Bulan Sabit, Ding Peng pun mengajak Qing Qing untuk bersamanya tinggal di dunia orang hidup.Awalnya rencana Ding Peng sempat dihalang-halangi orang tua Qing Qing. Tapi melihat kesungguhan hari Ding Peng, mereka pun merestui Ding Peng dan Qing Qing tinggal di dunia orang hidup.
Saat kembali, Ding Peng menantang Pendekar Liu untuk berduel kembali. Kali ini dengan senjata dan jurus baru, Ding Peng berhasil mengalahkan Pendekar Liu.
Nama Ding Peng sontak melejit mejadi Pendekar Terbaik di dunia Kang Aow. Hal ini mendorong banyak orang yang kemudian mencoba mengadu ilmu dengannya. Salah satunya adalah Pendekar Cia Siao Hong (Wang Lung Wei), yang merupakan Pendekar Pedang Terhebat di Kang Aow. Pertarungan hidup-mati pun terjadi di antara mereka. Siapakah yang akan menang : Golok atau Pedang?
Dibandingkan dengan film Death Duel (三少爺的劍 - San Sau Ye De Dao) yang dirilis tahun 1977 dan juga disutradarai Chu Yuen dan diperani Derek Yee, film Full Moon Scimitar bisa dikatakan jauh lebih seru dari sisi eksyen. Terlebih gaya pertarungannya terbilang sedikit berbeda karena menampilkan pertarungan dengan pedang dari jarak yang cukup dekat (mengingat panjang Golong Bulan Sabit cukup pendek), film Full Moon Scimitar cukup menghibur.
Meski merupakan salah satu film populer dari Shaw Brothers, para penggemar film wuxia mungkin akan kesulitan menemukan film Full Moon Scimitar dalam bentuk DVD, VCD, maupun BlueRay dikarenakan perilisannya yang sangat terbatas. Kalau memesan via internet mungkin bisa. Atau bisa juga mencari film ini saat sedang main di Malaysia, Hong Kong, atau Tiongkok saat Liburan Lebaran nanti.
Labels:
2018,
box-office,
derek yee,
google,
hong kong,
kungfu,
shaw brothers,
silat,
swordsman,
wuxia
Saturday, 19 May 2018
Cripped Avengers (1978)
Para pendekar di film-film wuxia biasanya digambarkan sebagai sosok yang gagah, dengan kemampuan bela diri yang sangat luar biasa. Nah, bagaimana jika sosok pendekar tersebut adalah orang cacat, dengan keterbatasan kemampuan?
Sosok dengan keterbatasan gerak dan kemampuan ini dulu sempat sangat populer setelah Jepang merilis film The Tale of Zatoichi (1962). Film yang mengetengahkan Pendekar Buta Zatoichi ini menjadi sangat terkenal dan mengangkat nama aktor Shintaro Katsu sampai dikenal seluruh dunia.
Pada tahun 1978, Shaw Brothers pernah merilis film bertema sama. Bedanya dengan Zatoichi, pendekar dengan kekurangan bagian tubuh (cacat fisik) tidak ditampilkan hanya buta saja, tetapi ada juga yang tanpa tangan, tanpa kaki, bahkan mengalami gangguan jiwa. Film produksi Shaw Brothers tersebut adalah Cripped Avengers (殘缺 - Can Que).
Disutradarai Chang Cheh, film ini selain diperani oleh Cheng Kuan Tai, juga diperani oleh beberapa personal Five Venoms (untuk mengetahui lebih detil tentang sosok Five Venoms, Anda bisa membacanya dengan meng-klik link berikut ini), sehingga film ini sering juga disebut "The Return of Five Deadly Venoms" (meski film ini sendiri tidak ada hubungannya dengan film "Five Deadly Venoms").
Film ini mengisahkan tentang Tao Tien Tu (Chen Kuan Tai) - Pemimpin Perguruan Beladiri Jurus Cakar Harimau - yang baru pulang dari perjalanan jauh dan menemukan keluarganya dibantai oleh orang tidak dikenal. Istrinya tewas, dan anak semata wayangnya - Tao Sheng - dalam kondisi sekarat dengan kedua tangannya terpotong.
Tao Tien Tu kemudian menyelamatkan anaknya dan menggantikan tangan anaknya dengan tangan besi. Sang anak pun dilatih ilmu bela diri tingkat tinggi.
Dua puluh tahun kemudian, Tao Tien Tu masih memendam amarah dan dendam pada orang yang telah menghabisi keluarganya. Di lain pihak, Tao Sheng (Lu Feng) yang telah memiliki ilmu sangat tinggi menjadi sangat sombong dan senang menganiaya orang-orang di kota.
Saat berada di kota, dia bertemu dengan seorang pandai besi Wei Da Di (Lo Mang) yang tidak mau tinduk pada Tao Sheng. Akibatnya dia dipaksa meminum cairan air keras yang membuat tenggorokannya terbakar dan dia menjadi bisu. Ketika Da Di masih melawan, gendang telinganya dihancurkan sehingga dia pun menjadi tuli.
Lalu Tao Sheng berpapasan dengan seorang pengelana bernama Chen Sun (Kuo Chui). Karena masalah kecil, Tao Sheng tersinggung, lalu membutakan mata Chen Sun. Dan saat Tao Sheng tanpa sengaja tersandung oleh kaki Hua A Kui (Sun Chien) yang sedang duduk di pinggir jalan, Tao Sheng langsung memotong kaki A Kui.
Yuan Yi (Chiang Sheng), seorang pendekar digjaya, trenyuh melihat 3 orang penduduk kota yang dianiaya Tao Sheng, lalu menantang Tao Sheng bertarung. Dalam pertarungan itu, Tao Sheng berhasil mengalahkan Yuan Yi, Agar Yuan Yi tidak mencari gara-gara dengannya lagi, Tao Sheng merusak otak Yuan Yi dan membuatnya menjadi orang idiot.
Keempat orang tersebut akhirnya mencari bantuan pada Guru Yuan Yi yang tinggal di sebuah biara. Di sana, mereka dilatih ilmu bela diri khusus untuk orang cacat. Dengan kemampuan yang mereka miliki, keempat orang tersebut akhirnya menjadi pendekar yang melakukan balas dendam atas apa yang telat diperbuat Tao Sheng pada mereka.
Film ini ingin menggambarkan bahwa orang cacat bukanlah orang lemah. Meski mereka punya kekurangan, tetapi Tuhan memberikan kelebihan yang luar biasa di hal lain, yang membuat mereka berbeda, bahkan jauh lebih kuat daripada orang normal.
Selain itu, moral lain yang ingin digambarkan film ini adalah meski kita punya kemampuan lebih dari orang lain, hendaklah kita tetap menjadi orang yang rendah hati. Jangan arogan dan sombong, serta menganggap orang lain lebih rendah daripada kita.
DO YOU KNOW?
Episode Blood Oath dari serial televisi Star Trek : Deep Space Nice (1994) memiliki alur cerita yang sama persis dengan film Cripped Avengers, sehingga banyak penonton yakin kalau penulis skenario Blood Oath menjiplak alur cerita dari Cripped Avengers.
Film Cripped Avengers merupakan salah satu film wuxia Hong Kong yang paling sering dijadikan referensi dalam berbagai film produksi Amerika Serikat. Dalam serial televisi Everybody Hates Chris di episode Everybody Hates Drew (2006), karakter Drew (diperani Tequan Richmond) dalam beberapa kesempatan menyebut judul film ini. Sedangkan dalam film layar lebar Rewind This! (2013), cover video film ini terlihat jelas dalam salah satu adegan. Sedangkan dalam serial animasi Futurama, episode The Series Had Landed (1999), alur cerita Cripped Avengers diparodikan dalam episode tersebut.
Labels:
1978,
best,
box office,
chang cheh,
movie,
radio,
shaw brothers,
suara indah,
venom
Sunday, 13 May 2018
One Armed Swordman (1967)
Bagi penggemar film wuxia, One-Armed Swordman (獨臂刀 - Du Bi Dao) adalah film wuxia klasik yang wajib dikoleksi. Film ini merupakan film garapan Sutradara Chang Cheh dan merupakan film wuxia pertama yang menampilkan pertarungan sadis dan banjir darah.
Film ini menjadi film Hong Kong pertama yang berhasil meraih penghasilan di atas HKD 1 juta dan menjadikan Jimmy Wang (Wang Yu) - aktor kelahiran Taiwan - menjadi aktor papan atas Hong Kong.
One-Armed Swordsman mengisahkan tentang Perguruan Pedang Emas yang diserang oleh perampok. Pada saat itu, Pelayan Fang Cheng mengorbankan nyawanya untuk melindungi gurunya, Qi Ru Feng (Tien Feng). Atas pengorbanan pelayan setianya tersebut, Qi Ru Feng memutuskan untuk mengadopsi anak Fang Cheng yang bernama Fang Kang.
Saat dewasa, Fang Kang mendapatkan
perlakuan tidak pantas dari murid-murid Qi Ru Feng. Bahkan anak Qi Ru Feng yang bernama Qi Pei Er mem-bully Fang Kang sedemikian rupa, hingga Fang Kang memutuskan untuk kabur dari perguruan. Dalam pelariannya, dia justru dihadang oleh Qi Pei Er dan murid-murid perguruan. Setelah disiksa dan dipukuli, tangan kanan Fang Kang ditebas hingga putus oleh Qi Pei Er. Fang Kang yang kesakitan jatuh ke dalam jurang. Beruntung dia kemudian diselamatkan oleh seorang gadis desa bernama Xiao Man (Lisa Chiao Chiao)
Meski nyawanya tertolong, tapi Fang Kang frutrasi karena dirinya tidak dapat berlatih kungfu dengan hanya 1 tangan. Xiao Man kemudian memberikan buku kungfu dan pedang patah peninggalan orang tuanya kepada Fang Kang. Buku tersebut dia bagi setengah agar Fang Kang dapat berlatih dengan menggunakan satu tangan saja. Ternyata buku itu membuat Fang Kang menjadi digjaya dan hebat.
Sementara itu, saat Guru Qi Ru Feng mempersiapkan perayaan ulang tahunnya yang ke-55, perguruan mereka didatangi oleh Iblis Bertangan Panjang dan Cheng si Harimau Tersenyum. Mereka adalah musuh lama Qi Ru Feng. Saat datang, mereka langsung mengobrak-abrik pesta Qi Ru Feng dan membunuhnya.
Fang Kang yang mendengar kabar kematian gurunya, segera mencari Iblis Bertangan Panjang dan Cheng Si Harimau Tersenyum. Lewat pertarungan mati-matian, akhirnya Fang Kang berhasil membunuh kedua musuh gurunya tersebut. Pasca memenangkan pertarungan, murid-murid Qi Ru Feng meminta maaf pada Fang Kang dan meminta untuk menjadi Pemimpin Baru Perguruan Pedang Emas. Tapi Fang Kang menolak, dan memilih menjadi petani dan menikah dengan Xiao Man.
ABOUT "ONE-ARMED SWORDSMAN"
Seperti yang saya ulas di atas, film "One-Armed Swordsman" merupakan film wuxia yang sangat sukses di masanya. Atas kesuksesan film ini, One-Armed Swordsman kemudian dibuat sekuelnya : Return of the One-Armed Swordsman (1969) dan The New One-Armed Swordsman (1971). Ketiga film ini semuanya disutradarai Chang Cheh dan diperani Jimmy Wang Yu, dan kelak dikenal dengan sebutan One-Armed Swordsman Trilogy.
Film One-Armed Swordsman tidak saja populer di Hong Kong, tetapi juga sampai ke Jepang. Di masa itu, One-Armed Swordsman sempat dibanding-bandingkan dengan Zatoichi, karakter di film berjudul sama yang waktu itu sangat populer di Jepang. Banyak orang kemudian bertanya, siapa yang paling hebat diantara mereka berdua.
Karena itu, untuk "menjawab" rasa penasaran penonton maka pada tahun 1971 dibuatlah film berjudul Zatoichi and the One-Armed Swordsman (獨臂刀大戰盲俠 - Du Bi Dau Da Zhan Mang Xia). Film kolaborasi Jepang-Hong Kong ini disutradarai oleh Hsu Tseng Hung dan Kimiyoshi Yasuda. Pemeran film ini tetap dipercayakan pada Jimmy Wang Yu (sebagai Fang Kang) dan Shintaro Katsu (sebagai Zatoichi).
Film tersebut mengisahkan Fang Kang yang melakukan petualangan hingga ke Jepang, kemudian bertemu dengan Zatoichi. Keduanya salah paham karena adanya perbedaan bahasa di antara mereka. Ditambah lagi mereka berdua diadu-domba oleh para Tuan Tanah di Jepang, akhirnya Zatoichi dan Fang Kang pun harus berduel, menuntaskan perselisihan di antara mereka.
Meski akhir film ini menampilkan Zatoichi menang dalam pertarungan, tetapi ada gosip yang mengatakan kalau film ini sebenarnya dibuat dalam 2 versi : Versi yang dirilis di Jepang menampilkan Zatoichi yang menang. Sedangkan versi lainnya dirilis di Hong Kong, menampilkan Fang Kang yang menang. Meski demikian, hingga hari ini gosip tersebut tidak pernah ada klarifikasi.
Labels:
2018,
box office,
google,
hong kong,
jimmy,
shaw brothers,
swordsman,
wang yu,
wuxia
Snake's in the Eagle's Shadow (1978)
Film Snake's in the Eagle's Shadow (蛇形刁手) merupakan film yang paling bersejarah, terutama dalam proses perjalanan karir Jackie Chan. Karena pasca film ini, dunia kemudian mengenal Jackie Chan sebagai aktor film laga yangmengombinasikan eksyen dengan komedi. Sebelumnya, Jackie Chan berada di persimpangan jalan, antara berhenti menjadi aktor atau melanjutkan karir ini namun berada di bawah bayang-bayang kesuksesan Bruce Lee. Beruntung, Sutradara Yuen Ho Ping mengajaknya bermain di film ini, sehingga Jackie Chan menjadi sukses hingga hari ini.
Snake's in the Eagle's Shadow merupakan film wuxia terobosan baru di dunia perfilman Hong Kong kala itu, karena film ini merupakan film wuxia pertama yang menggabungkan elemen eksyen dengan komedi. Ada ide Produser Ng See Yuen yang ingin membuat film jenis demikian. Setelah berbicara dengan Yuen Ho Ping, mereka sepakat untuk mengajak Jackie Chan dan menjadikannya menjadi Pemeran Utama film ini.
Jackie Chan sendiri sebenarnya saat itu baru saja selesai menuntaskan pembuatan film New Fist of Fury yang disutradarai Lo Wei. Sayangnya film itu gagal total di pasaran dan karir Jackie Chan stagnan. Tanpa melihat hasil yang diraih New Fist of Fury, Ng See Yuen yakin kalau Jackie Chan adalah pilihan yang tepat untuk bermain di film yang diproduserinya. Dan akhirnya Jackie Chan pun menjadi pemeran utama film ini.
Film Snake's in the Eagle's Shadow mengisahkan tentang Sheng Kuan (Hwang Jang Lee), seorang pendekar dari Perguruan Cakar Elang, yang memiliki obsesi untuk menguasai dunia persilatan dengan menghabisi orang-orang dari Peguruan Jurus Ular. Beruntung, satu-satunya murid terhebat dari Perguruan Jurus Ular - Pai Cheng Tien (diperani Yuen Siu Tien) - berhasil melarikan diri dan menyamar sebagai pengemis.
Satu ketika Pai Cheng Tien berpapasan dengan seorang anak yatim piatu bernama Chien Fu (Jackie Chan) yang bekerja di sebuah perguruan bela diri. Sayang, di perguruan itu Chien Fu justru dijadikan alat latihan dan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Guru dan teman-teman perguruannya.
Iba dengan perlakukan yang diterima Chien Fu, Pai Cheng Tien pun melatih Chien Fu dengan ilmu Jurus Ularnya.
Ketika perguruannya diserang Perguruan Jurus Belalang Sembah, Chien Fu muncul dan membela perguruannya dengan Jurus Ular yang dipelajarinya. Saat dia mengeluarkan jurus tersebut, secara tidak sengaja Sheng Kuan lewat di depan perguruan Chien Fu, dan segera mengenali jurus itu sebagai Jurus Ular. Sheng Kuan mencoba memperalat Chien Fu untuk membawanya menemui Pai Cheng Tien. Namun ketika Chien Fu curiga, Sheng Kuan melukainya.
Merasa kemampuan bela dirinya tidak sepadan dengan Sheng Kuan, Chien Fu kemudian mengembangkan teknik bela dirinya dan menggabungkannya dengan Jurus Cakar Kucing. Jurus ini dikembangkannya setelah melihat perkelahian kucing peliharaannya melawan seekor ulang kobra.
Di akhir cerita, ketika Sheng Kuan telah berhasil menemukan persembunyikan Pai Cheng Tien dan nyaris membunuhnya, Chien Fu muncul dan membela Pai Cheng Tien. Dengan jurus baru miliknya, dia akhirnya berhasil menghabisi Sheng Kuan.
DO YOU KNOW?
Film Snake's in the Eagle's Shadow meraih kesuksesan yang luar biasa saat ditayangkan di Hong Kong waktu itu. Film ini meraih penghasilan HKD 2,7 juta lebih, dan menjadi salah satu film terlaris di masa itu. Pasca kesuksesan film ini, Yuen Ho Ping membuat kembali film bertema sejenis berjudul Drunken Master (1978) dengan diperani Jackie Chan, Yuen Siu Tien, dan Hwang jang Lee. Dan sama seperti film Snake's in the Eagle's Shadow, film Drunken Master juga meraih sukses, bahkan melebihi pendahulunya. Berkat kedua film inilah nama Jackie Chan akhirnya dikenal dunia hingga hari ini.
Dalam proses pengambilan gambar film Snake's in the Eagle's Shadow, Jackie Chan mengalami dua kali kecelakaan. Yang pertama adalah saat melakukan adegan perkelahian dengan Hwang Jang Lee, Aktor asal Korea ini secara tidak sengaja melakukan tendangan terlalu rendah, sehingga mengenai muka Jackie Chan. Akibat tendangan yang sangat keras itu, gigi Jackie Chan tanggal. Kecelakaan kedua terjadi saat adegan perkelahian menggunakan golok. Dalam adegan tersebut, golok yang digunakan ternyata adalah golok sungguhan, dan mengenai Jackie Chan hingga dia terluka. Meski Jackie Chan berteriak kesakitan, tapi tidak ada orang yang menyadari hal itu dan terus merekam adegan perkelahian. Setelah tubuh Jackie berlumuran darah, mereka baru menyadari dan menghentikan pengambilan gambar.
Film Snake's in the Eagle's Shadow tidak bisa didistribusikan di wilayah Eropa dan Amerika pada waktu itu, karena menggunakan musik latar "Magic Fly" dan "Oxygen Part 2" karya Artis Jean Michel Pierre, yang mana kedua musik itu tidak mendapatkan izin dari penciptanya. Agar bisa tetap masuk negara tersebut, maka musik latarnya pun diubah dan diisi dengan musik yang lain. Meski demikian, untuk peredaran di kawasan Asia, musik latar yang digunakan tetap tidak berubah.
Atas kesuksesan film ini, tahun 1979 ada sekuelnya berjudul Snake's in the Eagle's Shadow 2 (atau dengan judul lain Snaky Knight Fight Againts Mantis). Film ini disutradarai Chang Sin Yi dan diperani Wang Tao. Meski merupakan sekuel, namun alur ceritanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan film Snake's in the Eagle's Shadow. Bahkan banyak adegan perkelahiannya menggunakan adegan yang digunakan di Snake's in the Eagle's Shadow. Film itu gagal dan tidak dapat mengulang kesuksesan film sebelumya.
Saturday, 23 September 2017
Judge Bao / Justice Bao (包青天 )
Tahun 1993 silam, ada sebuah serial televisi yang lengendaris sekali. Judulnya Judge Bao / Justice Bao. Buat penggemar cerita klasik Tiongkok, Judge Bao (包青天 - Bao Ching Tien) bukanlah cerita baru dan sudah dikenal sejak ratusan tahun silam.
Judge Bao adalah kisah tentang seorang Hakim Jujur dan Adil bernama Bao Zheng (11 April 999 - 20 Mei 1062) yang hidup di masa Dinasti Song. Sepanjang karirnya menjadi Hakim Negara, dia terkenal sebagai Hakim yang selalu mampu menilai sebuah kasus dengan arif-bijaksana. Bahkan dia tidak segan-segan menghukum siapapun dengan hukuman berat jika mereka terbukti bersalah, entah pelakunya rakyat jelata maupun orang kaya, bahkan Anggota Keluarga Kerajaan sekalipun.
Sikap Bao Zheng ini menjadi panutan dan inspirasi banyak orang, sehingga sering dibuat dalam bentuk novel, komik, maupun film serta serial televisi.
Nah, pada tahun 1993, Jaringan televisi CTS - Taiwan merilis sebuah serial berjudul Justice Bao (包青天 ). Serial ini diperani oleh Jin Chao Chun (金超群) dan Kenny Ho (何家勁 - He Jia Jin). Awalnya serial ini hanya dibuat sebanyak 15 episode saja. Tetapi saat ditayangkan, serial ini meraih penonton yang banyak sekali. Tidak saja di Taiwan, tetapi menyebar hingga ke Asia Tenggara, termasuk Indonesaia.
Respon yang sangat positif dari penonton, membuat CTS akhirnya memproduksi kembali serial ini hingga total 236 episode !!!! Wow... sungguh luar biasa... !!!!
Berbeda dengan serial televisi pada umumnya yang menampilkan cerita bersambung terus-menerus, Justice Bao tidak menampilkan cerita yang bersambung (meski sesekali ada 1 hal yang berhubungan dengan kasus sebelumnya), tetapi dibuat menjadi cerita pendek yang menampilkan 1 kasus. Setiap kasus atau cerita pendek rata-rata 3 - 9 episode.
Dalam serial Justice Bao ini, ada 42 kasus yang dibuat. Dan dari semua kasus di serial tesebut, Kasus Za Mei An (鍘美案) adalah kasus yang paling legendaris yang mendapat perhatian paling besar dari penonton.
Dalam catatan sejarah, Za Mei An adalah salah satu kasus paling menarik yang pernah ditangani Justice Bao dan menunjukkan betapa tegasnya dia dalam menangani setiap kasus.Kasus ini termuat dalam buku "Ilustrated Edition of Bao Zheng's Trial of a Hundred Legal Cases" ( 增像包龙图判百家公案) yang diterbitkan tahun 1595. Dikisahkan ada seorang Pelajar yang sangat cerdas bernama Chen She Mei (陈 世美) yang berhasil lulus dari ujian Kerajaan dengan Predikat Tertinggi. Atas prestasinya, dia tidak saja mendapatkan hadiah dari Kaisar tetapi juga dinikahkan dengan Anak Kaisar.
Sebenarnya Chen She Mei sendiri sudah menikah dan punya anak. Namun demi meraih kekuasaan, dia tidak menceritakan hal ini pada Kaisar dan istrinya.
Satu ketika, istri Chen She Mei menyusul ke kota, menemui suaminya. Tetapi Chen She Mei tidak mengakui istrinya, bahkan menyuruh orang untuk membunuhnya. Beruntung pembunuh Chen She Mei adalah orang yang baik hati, dan melepaskannya. Istri Chen She Mei kemudian mengadukan nasibnya pada Kehakiman Negara, yang saat itu dipimpin Bao Zheng.
Bao Zheng pun mengadili Chen She Mei, dan - berdasarkan fakta dan data yang didapat - Bao Zheng menjatuhkan hukuman mati pada Chen She Mei karena menelantarkan serta berusaha membunuh istrinya sendiri. Sebelum Chen She Mei dieksekusi, tiba-tiba muncullah Ibu Suri Kerajaan yang membel Chen She Mei. Tapi demi menegakkan keadilan, Bao Zheng mempertaruhkan jabatannya dan tetap menghukum mati Chen She Mei.
Kisah Za Mei An ini sangat sering dimainkan di Opera Beijing, bahkan sudah menjadi cerita klasik yang dimainkan sejak Dinasti Song.
DO YOU KNOW?
Theme song serial Justice Bao berjudul Bao Cing Thien yang dinyanyikan oleh Hu Kua. Lagu ini sebenarnya pertama kali digunakan sebagai theme song di serial televisi Judge Bao (juga produksi CTS - Taiwan) yang dirilis 1974. Waktu itu, lagu ini dinyanyikan oleh Chiang Kuang Chao. Meski demikian, lagu versi Hu Kua inilah yang dikenal banyak orang dan menjadi versi theme song Judge Bao yang paling sering digunakan. Pasca kesuksesan serial Justice Bao, lagu ini pun ikut sukses dan sering digunakan sebagai theme song semua serial Judge Bao.
Selain dinyanyikan Chiang Kuang Chao dan Hu Kua, theme song Judge Bao juga pernah di-remake dan dinyanyikan oleh artis lain, yaitu George Lam, Ray Liu, dan Andy Lau. Bahkan lagu ini pun pernah dinyanyikan dalam versi Tagalog - Filipina saat serial tersebut ditayangkan di stasiun televisi Filipina ABC-5.
Sementara itu, lagu penutup (ending song) serial Justice Bao berjudul Xin Yen Yang Hu Die Meng (新鴛鴦蝴蝶夢) dinyanyikan oleh Huang An. Lagu ini menjadi lagu yang sangat populer di masa itu, tidak saja di Taiwan tetapi juga seluruh negara. Lagu ini terdapat dalam album Huang An, dan album tersebut terjual hingga jutaan kopi.
Hingga hari ini, lagu Xin Yen Yang Hu Die Meng masih sering diputar dan disukai banyak orang. Selain Huang An, lagu ini pernah dinyanyikan juga oleh Kenny Ho, dan Albert Tung. Selain menyanyikan lagu ini dalam bahasa Mandarin, Huang An pun pernah menyanyikan lagu ini dengan lirik Kanton (berduet dengan Loletta Lee) dan Inggris (dengan judul "When It Comes To Love"). Selain itu, lagu ini pernah juga dinyanyikan oleh artis lain dalam versi bahasa Hokkien (Joice Lim), Thailand (Kong Tuansith Reamchinda), Vietnam (Dan Truong), Khmer (Khemarak Sereymon), dan bahasa Indonesia (Lavenia). Untuk versi Indonesia, judul lagunya diubah menjadi "Melodi Memori". Sama seperti versi aslinya, lagu yang dinyanyikan Lavenia ini pun sangat popuper di era 1990-an.
![]() |
| Jin Chao Chun : Sebelum dan sesudah berdandan menjadi Judge Bao |
Pasca kesuksesan serial televisi Justice Bao, banyak stasiun televisi (baik Taiwan dan Hongkong) yang kemudian membuat-ulang serial tersebut. Dan Jin Chao Chun hampir selalu dipercaya untuk memerani karakter Justice Bao. Berkat perannya sebagai Bao Zheng, Jin Chao Chun membukukan rekor sebagai satu-satunya aktor Asia Tenggara yang memerani karakter yang sama dalam serial televisi sebanyak 700 episode.
Thursday, 21 September 2017
Heroes Two (方世玉與洪熙官)
Salah satu daya tarik yang dapat menarik minat penonton untuk menonton sebuah film adalah ketika film itu diperani aktor yang sedang digandrungi saat ini, atau ceritanya tentang tokoh atau karakter yang disukai penonton.
Nah, film Heroes Two memiliki 2 unsur tersebut. Wajar jika film ini kemudian menjadi salah satu film yang sukses di masanya.
Heroes Two adalah film produksi Shaw Brothers yang dirilis tahun 1974. Pemeran utama film ini adalah Chen Kuan Tai dan Alexander Fu Sheng, di mana kedua aktor Hong Kong ini adalah aktor laga papan atas yang sangat terkenal di masa itu. Sebelumnya, kedua aktor ini sudah sangat terkenal. Nyaris semua film yang mereka perani adalah film-film box-office. Wajar jika saat mereka berdua dipertemukan dalam satu film, film tersebut meraih kesuksesan yang berlipat.
Ditambah lagi, Heroes Two disutradarai oleh Sutradara Kawakan Chang Cheh, yang selalu membuat karya-karya box-office. Makin sempurnalah film ini sebagai film box-office.
Heroes Two bersetting masa Kerajaan Dinasti Qing, di mana saat itu Kaisar membumi-hanguskan Shaolin. Untuk menyelamatkan dirinya, para biarawan pun melarikan diri dan bersembunyi di hutan serta menyaru sebagai rakyat jelata di kota.
Dalam kondisi itu, muncullah Fang She Yi (Fu Sheng) - seorang murid Shaolin yang memiliki ilmu beladiri tinggi - yang membela para pendeta Shaolin. Tindakannya mengundang perhatian Jendral Che Kang (Zhu Mu) yang ingin memenjarakan Fang She Yi. Tetapi untuk mengkonfrontir Fang She Yi tentu tidak mungkin, karena dia akan kalah. Karena itu Jendral Che Kang menggunakan taktik adu-domba.
Jendral Che Kang menyebarkan gosip kalau Fang She Yi adalah dalang di balik pembakaran Biara Shaolin tersebut. Sementara itu, dia pun menjebak Hung Si Guan (Chen Kuan Tai), salah seorang murid Shaolin yang lain, dan menuduh Hung Xi Guan sebagai seorang penjahat.
Fang She Yi yang sangat naif - serta memiliki semangat untuk membela keadilan dan kebenaran - berusaha menangkap Hung Si Guan. Sebaliknya, Hung Si Guan berusaha menangkap Fang She Yi karena dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas kehancuran Biara Shaolin.
Keduanya pun akhirnya terlibat pertarungan hebat.
Untungnya, Fang She Yi dan Hung Si Guan akhirnya sadar kalau mereka diadu-domba oleh Jendral Che Kang. Karena itu, mereka pun berbalik arah, dan bekerja sama untuk menundukkan Jendral Che Kang dan para pengikutnya.
Film berdurasi 93 menit terbilang cukup seru karena banyak menampilkan adegan perkelahian dengan durasi yang cukup panjang. Meski demikian, karena gaya perkelahiannya yang atraktif, penonton tidak merasa bosan dan dapat menikmati film ini dengan menyenangkan.
Banyak kritikus film yang menilai film ini adalah sebuah film wuxia klasik yang berhasil menggabungkan unsur fiksi dan sejarah dengan sangat baik. Dan pujian tersebut khususnya dilayangkan pada koreografi perkelahian yang menarik dan tidak membosankan.
Nah, film Heroes Two memiliki 2 unsur tersebut. Wajar jika film ini kemudian menjadi salah satu film yang sukses di masanya.
Heroes Two adalah film produksi Shaw Brothers yang dirilis tahun 1974. Pemeran utama film ini adalah Chen Kuan Tai dan Alexander Fu Sheng, di mana kedua aktor Hong Kong ini adalah aktor laga papan atas yang sangat terkenal di masa itu. Sebelumnya, kedua aktor ini sudah sangat terkenal. Nyaris semua film yang mereka perani adalah film-film box-office. Wajar jika saat mereka berdua dipertemukan dalam satu film, film tersebut meraih kesuksesan yang berlipat.
Ditambah lagi, Heroes Two disutradarai oleh Sutradara Kawakan Chang Cheh, yang selalu membuat karya-karya box-office. Makin sempurnalah film ini sebagai film box-office.
Heroes Two bersetting masa Kerajaan Dinasti Qing, di mana saat itu Kaisar membumi-hanguskan Shaolin. Untuk menyelamatkan dirinya, para biarawan pun melarikan diri dan bersembunyi di hutan serta menyaru sebagai rakyat jelata di kota.
Dalam kondisi itu, muncullah Fang She Yi (Fu Sheng) - seorang murid Shaolin yang memiliki ilmu beladiri tinggi - yang membela para pendeta Shaolin. Tindakannya mengundang perhatian Jendral Che Kang (Zhu Mu) yang ingin memenjarakan Fang She Yi. Tetapi untuk mengkonfrontir Fang She Yi tentu tidak mungkin, karena dia akan kalah. Karena itu Jendral Che Kang menggunakan taktik adu-domba.
Jendral Che Kang menyebarkan gosip kalau Fang She Yi adalah dalang di balik pembakaran Biara Shaolin tersebut. Sementara itu, dia pun menjebak Hung Si Guan (Chen Kuan Tai), salah seorang murid Shaolin yang lain, dan menuduh Hung Xi Guan sebagai seorang penjahat.
Fang She Yi yang sangat naif - serta memiliki semangat untuk membela keadilan dan kebenaran - berusaha menangkap Hung Si Guan. Sebaliknya, Hung Si Guan berusaha menangkap Fang She Yi karena dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas kehancuran Biara Shaolin.
Keduanya pun akhirnya terlibat pertarungan hebat.
Untungnya, Fang She Yi dan Hung Si Guan akhirnya sadar kalau mereka diadu-domba oleh Jendral Che Kang. Karena itu, mereka pun berbalik arah, dan bekerja sama untuk menundukkan Jendral Che Kang dan para pengikutnya.
Film berdurasi 93 menit terbilang cukup seru karena banyak menampilkan adegan perkelahian dengan durasi yang cukup panjang. Meski demikian, karena gaya perkelahiannya yang atraktif, penonton tidak merasa bosan dan dapat menikmati film ini dengan menyenangkan.
Banyak kritikus film yang menilai film ini adalah sebuah film wuxia klasik yang berhasil menggabungkan unsur fiksi dan sejarah dengan sangat baik. Dan pujian tersebut khususnya dilayangkan pada koreografi perkelahian yang menarik dan tidak membosankan.
LO LIEH - Superstar Dunia Keturunan Indonesia
Jauh sebelum aktor Indonesia - Iko Uwais, Yayan Ruhian, Joe Taslim, Ray Sahetapy, dan Cinta Laura - dikenal di perfilman internasional, sebenarnya ada aktor kelahiran Indonesia yang lebih dulu "go-international" dan dikenal masyarakat dunia.
Dia adalah Lo Lieh (羅烈).
Bagi penggemar film wuxia Hong Kong, Lo Lieh adalah salah satu legenda yang sangat dihormati, baik oleh penonton film Hong Kong, tetapi penggemar film wu xia di seluruh dunia.
Terlahir dengan nama Wang Lap Tat di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, tanggal 29 Juni 1939, Lo Lieh menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Pada tahun 1962, saat Lo Lieh berusia 23 tahun, dia diajak keluarganya hijrah ke Hong Kong. Selain melanjutkan sekolah, Lo Lieh kemudian belajar ilmu bela diri (waktu itu dia memilih Kung Fu).
Karena kondisi perekonomian saat itu cukup berat, maka selain sekolah, Lo Lieh pun bekerja sambilan di Shaw Brothers Studio. Dari hanya sekedar sebagai pembantu, Lo Lieh yang ramah dan gampang bergaul itu dengan cepat dikenal banyak artis dan sutradara Shaw Brothers. Dia kemudian mulai mendapat peran kecil di beberapa film produksi Shaw Brothers, seperti Temple of The Red Lotus (1965), The Twin Swords (1965), dan Tiger Boy (1966). Saat bermain film, dia sudah menggunakan nama Lo Lieh agar lebih mudah diingat orang.
Meski terbilang karir filmnya bergerak pelan - karena hanya mendapat peran kecil - tetapi Lo Lieh tidak pantang menyerah.
Pada tahun 1970, dia mulai mendapat kepercayaan menjadi Pemeran Utama. Film pertama yang diperaninya sebagai tokoh utama adalah Brothers Five (1970). Selanjutnya dia kembali mendapat kesempatan menjadi pemeran utama di film King Boxer (天下第一拳 - Five Fingers of Death). Film tersebut meraih sukses yang luar biasa dan menjadi salah satu film terlaris masa itu. Selain itu, film King Boxer menampilkan teknik perkelahian "gaya baru" di masa itu, di mana ada adegan sang karakter terbang ke puncak pohon. Adegan ini menjadi tren di masa itu dan banyak digunakan oleh film-film wuxia pada zaman itu.
Film King Boxer menjadi salah satu film epik dan legendaris yang diakui banyak pengamat film sebagai film wuxia terbaik di masa itu.
Selanjutnya, Lo Lieh banyak bermain film-film wuxia box-office seperti Executioners from Shaolin (1977), The 36th Chamber of Shaolin (1978), Clan of the White Lotus (1980), dan lain-lain.
Pada pertengahan era 1980-an, film-film wuxia memasuki masa suram, di mana banyak penonton mulai beralih menonton film-film drama atau eksyen bergaya modern. Karena itu, Lo Lieh juga ikut banting stir dan memerani film-film drama serta eksyen modern. Hasilnya cukup menggembirakan, karena banyak film yang diperaninya sukses. Lo Lieh bahkan mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Jackie Chan di film Dragons Forever (1988), Miracles (1989), dan Police Story 3 : Super Cop (1993).
Lo Lieh masih terus aktif bermain film hingga tahun 2001. Film terakhir yang diperaninya adalah Glass Tears (2001). Dan setelah itu, Lo Lieh - yang waktu itu telah berusia 62 tahun - memutuskan untuk pensiun. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 2 November 2002, Lo Lieh pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami serangan jantung.
Semasa karirnya sebagai aktor Hong Kong, Lo Lieh sudah bermain di lebih dari 300 film. Selain film wuxia, dia juga bermain di film drama, komedi, horor, dan eksyen-modern. Lo Lieh merupakan aktor karismatik yang sangat dihormati karena kemampuan aktingnya yang luar biasa.
Dia adalah Lo Lieh (羅烈).
Bagi penggemar film wuxia Hong Kong, Lo Lieh adalah salah satu legenda yang sangat dihormati, baik oleh penonton film Hong Kong, tetapi penggemar film wu xia di seluruh dunia.
Terlahir dengan nama Wang Lap Tat di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, tanggal 29 Juni 1939, Lo Lieh menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Pada tahun 1962, saat Lo Lieh berusia 23 tahun, dia diajak keluarganya hijrah ke Hong Kong. Selain melanjutkan sekolah, Lo Lieh kemudian belajar ilmu bela diri (waktu itu dia memilih Kung Fu).
Karena kondisi perekonomian saat itu cukup berat, maka selain sekolah, Lo Lieh pun bekerja sambilan di Shaw Brothers Studio. Dari hanya sekedar sebagai pembantu, Lo Lieh yang ramah dan gampang bergaul itu dengan cepat dikenal banyak artis dan sutradara Shaw Brothers. Dia kemudian mulai mendapat peran kecil di beberapa film produksi Shaw Brothers, seperti Temple of The Red Lotus (1965), The Twin Swords (1965), dan Tiger Boy (1966). Saat bermain film, dia sudah menggunakan nama Lo Lieh agar lebih mudah diingat orang.
Meski terbilang karir filmnya bergerak pelan - karena hanya mendapat peran kecil - tetapi Lo Lieh tidak pantang menyerah.
![]() |
| Lo Lieh dalam film King Boxer (1970) |
Film King Boxer menjadi salah satu film epik dan legendaris yang diakui banyak pengamat film sebagai film wuxia terbaik di masa itu.
Selanjutnya, Lo Lieh banyak bermain film-film wuxia box-office seperti Executioners from Shaolin (1977), The 36th Chamber of Shaolin (1978), Clan of the White Lotus (1980), dan lain-lain.
Pada pertengahan era 1980-an, film-film wuxia memasuki masa suram, di mana banyak penonton mulai beralih menonton film-film drama atau eksyen bergaya modern. Karena itu, Lo Lieh juga ikut banting stir dan memerani film-film drama serta eksyen modern. Hasilnya cukup menggembirakan, karena banyak film yang diperaninya sukses. Lo Lieh bahkan mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Jackie Chan di film Dragons Forever (1988), Miracles (1989), dan Police Story 3 : Super Cop (1993).
Lo Lieh masih terus aktif bermain film hingga tahun 2001. Film terakhir yang diperaninya adalah Glass Tears (2001). Dan setelah itu, Lo Lieh - yang waktu itu telah berusia 62 tahun - memutuskan untuk pensiun. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 2 November 2002, Lo Lieh pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengalami serangan jantung.
Semasa karirnya sebagai aktor Hong Kong, Lo Lieh sudah bermain di lebih dari 300 film. Selain film wuxia, dia juga bermain di film drama, komedi, horor, dan eksyen-modern. Lo Lieh merupakan aktor karismatik yang sangat dihormati karena kemampuan aktingnya yang luar biasa.
Subscribe to:
Posts (Atom)

























